Pengukuran Data Synop Meteorologi
Author : Rinanda
Banyak aspek kehidupan di dunia ini yang sangat bergantung terhadap kondisi alam, khususnya cuaca. Bahkan untuk di wilayah lintang tinggi yang memiliki 4 musim, perubahan cuaca ekstrim yang sering terjadi tiba-tiba, sangat berdampak pada aktivitas masyarakat dan perekonomian wilayah jika tidak dilakukan prakiraan secara akurat. Di Indonesia sendiri yang berada di khatulistiwa dengan memiliki 2 musim (hujan dan kemarau), jarang terjadi perubahan cuaca ekstrem. Namun, informasi cuaca tetap menjadi hal mutlak dalam mendukung kegiatan masyarakat untuk mencapai hasil yang maksimal.
Banyak aspek kehidupan di dunia ini yang sangat bergantung terhadap kondisi alam, khususnya cuaca. Bahkan untuk di wilayah lintang tinggi yang memiliki 4 musim, perubahan cuaca ekstrim yang sering terjadi tiba-tiba, sangat berdampak pada aktivitas masyarakat dan perekonomian wilayah jika tidak dilakukan prakiraan secara akurat. Di Indonesia sendiri yang berada di khatulistiwa dengan memiliki 2 musim (hujan dan kemarau), jarang terjadi perubahan cuaca ekstrem. Namun, informasi cuaca tetap menjadi hal mutlak dalam mendukung kegiatan masyarakat untuk mencapai hasil yang maksimal.
Badan
Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, BMKG bertugas mengumpulkan, mengolah serta
menginfokan data-data baik untuk keperluan meteorologi, klimatologi maupun geofisika.
Selain itu juga dapat digunakan untuk penerbangan, pertanian, kelautan, ekonomi bahkan dalam arsitektur dan penataan lahan wilayah. Namun,
untuk mendapatkan data-data tersebut hingga dapat dihasilkan kesimpulan berupa
prakiraan untuk keperluan tersebut harus melalui tahap yang cukup
panjang.
Dalam
satu stasiun BMKG ternyata tidak semua aspek diteliti. Meteorologi,
klimatologi, dan geofisika memiliki stasiun yang berbeda-beda. Stasiun
klimatologi tersebar hampir di setiap provinsi di Indonesia karena
karakteristik wilayah Indonesia yang dapat mengalami iklim yang berbeda walau
yang dimaksud disini adalah iklim secara lokal. Di pulau Jawa sendiri ada setidaknya 4 stasiun
yaitu di Pondok Betung Tanggerang, Dramaga Bogor, Semarang dan Malang. Sedangkan
stasiun meteorologi tersebar dengan jarak antar stasiun 150-250 km. Berbeda
dengan stasiun yang lain, stasiun geofisika biasanya ditempatkan di wilayah
yang rawan gempa tektonik maupun vulkanik. Perlu diperhatikan bahwa pada
stasiun klimatologi dilakukan pula pengukuran unsur meteorologi namun, pada
stasiun meteorologi tidak terdapat alat ukur klimatologi.
![]() |
AWS (Automatic Weather Station) |
Salah satu contoh stasiun klimatologi yaitu berada di Dramaga, Bogor yang memiliki peralatan yang cukup lengkap. Baik alat yang
digunakan secara manual maupun secara otomatis seperti AWS (Automatic Weather Station). Ada beberapa
sangkar cuaca di permukaan yang didalamnya dilengkapi wet bulb thermometer, dry bulb thermometer, maximum dan minimum thermometer. Berbeda dengan sangkar cuaca bertingkat pada
ketinggian 4, 7, 10 meter yang dilengkapi dengan piche yang digunakan untuk mengukur tingkat penguapan di dalam
ruangan. Selain sangkar cuaca, terdapat pula Gun Bellani, Campbell Stock, dan Aktinograf,
Panci Kelas A, Anemometer, Barometer raksa dan digital, Observatorium, ARWS (Automatic Rain Weather Station), termometer
tanah berumput dan gundul dengan kedalaman 0 cm, 2 cm, 5 cm, 10 cm, 20 cm, 50
cm dan 100 cm, serta aplikasi untuk mengetahui terjadinya petir di pulau jawa
bagian barat dan bagian selatan sumatera.
Sebagian
besar alat tersebut merupakan alat ukur dalam agrometeorologi (Agm 1a-1b) yang
sangat berhubungan dengan iklim. Itulah mengapa di stasiun meteorologi hanya
difasilitasi dengan sangkar cuaca permukaan, anemometer, barometer, campbell
stock dan observatorium.
Bagaimana mereka bekerja?
BMKG
Dramaga melakukan pengamatan meteorologi setiap satu jam sekali dari pukul 07.00
WIB sampai 22.00 WIB dengan mencatat suhu bola basah, suhu bola kering,
tekanan, kondisi keawanan, angin, cuaca pada saat pengamatan dan perubahannya selama
satu jam sebelumnya serta suhu minimum dan
gun bellani di pagi hari dan suhu maksimum di sore hari. Data-data
tersebut dicatat dalam tabel synoptic serta di interpretasikan ke dalam
kode-kode tertentu yang telah disepakati sebagai kode cuaca dan iklim
internasional yang kemudian akan dilaporkan setiap 3 jam sekali yaitu pukul 7,
10, 13, 16, 19, dan 22 ke balai pengumpulan data wilayah I.
![]() |
Sangkar Cuaca di ketinggian 4, 7, dan 10 meter |
Untuk
pengamatan Agm sendiri berada pada jam tertentu yaitu 07.30, 13.30, dan 17.30
WIB dimana selain dilakukan pengamatan yang sama dengan meteorologi, dilakukan
juga pengukuran panci kelas A untuk melihat seberapa besar tingkat evaporasi
yang terjadi. Untuk pengukuran evapotransprasi pada permukaan tanah, dilakukan
pengukuran dengan menggunakan termometer tanah pada kedalaman yang berbeda-beda
baik berumput maupun tanah gundul.
Selain pada permukaan, ternyata pengukuran temperatur pada sangkar cuaca
dilakukan pula pada ketinggian 4m, 7m, dan 10m.
Begitu pula pada anemometer,
kecepatan angin pada beberapa ketinggian yang berbeda dicatat untuk
kemudian data-data tersebut diolah untuk menjadi informasi yang lebih bermakna.
Untuk
mengukur panjang hari sendiri, terdapat Campbell Stokes dengan menggunakan
kertas pias yang terbakar saat sinar matahari dipusatkan oleh bola kaca.
Seiring pergerakan semu matahari, maka kertas pias yang terbakar menunjukkan
panjang hari atau berapa lama eksistensi matahari tidak tertutup awan. Ada pula
aktinograf yang prinsip kerjanya mirip seismograf. Saat radiasi memanaskan plat
hitam, maka akan menggerakkan jarum aktinograf
naik dan turun membentuk gelombang transversal. Gun Bellani sendiri merupakan
alat ukur banyaknya radiasi yang diterima bumi. Prinsip kerjanya dengan melihat
perbedaan ketinggian air setelah Gun Bellani dibalik dengan ketinggian air yang
bertambah dari pengembunan setelah air pada bola alat tersebut menguap karena radiasi
matahari.
![]() |
Stasiun Pengamatan Cuaca |
Setiap stasiun pengamatan memilki dua
bagian dalam tugasnya yaitu bagian yang bertugas mengambil data di lapangan
setiap hari kemudian melaporkannya dan bagian yang bertugas mengolah data
tersebut untuk membuat prakiraan-prakiraan cuaca dan iklim. Semua data yang
telah diperoleh setiap harinya, diolah untuk membuat prakiraan cuaca untuk
skala waktu
·
Mingguan à
3-7 hari
·
Harian à
24 jam
·
Jangka sangat pendek à
03-12 jam
·
Warning à
01-03 jam
Semua
hasil prakiraan yang telah diperoleh, digunakan oleh masyarakat sekitar
terutama di bidang pertanian untuk menentukan waktu tanam maupun panen serta
perlakuan yang sebaiknya dilakukan terhadap tanamannya untuk memperoleh hasil
yang maksimal.
Komentar
Posting Komentar